Tahun 1988-1989 adalah masa-masa yang sulit bagi kami sekeluarga dalam arti yang sesungguhnya.
Kepindahan kami dari kota minyak Balikpapan ke daerah ex.Transmigrasi di Sebulu Kutai tidaklah serta merta membawa perubahan yang baik bagi kami secara ekonomi.
memang kami tidak perlu menyewa rumah lagi. kami bahkan mendapatkan jatah dari pemerintah desa ex transmigrasi rumah/pekarangan seluas 2500m2 dan 2 petak lahan pertanian seluas 1,75ha. Rumah tersebut milik bekas transmigran yang tidak betah tinggal disitu dan pulang kembali kedaerah asalnya.
Namun apadaya, meski memiliki rumah dan lahan pertanian yg luas, kami tidak memiliki dasar bertani sama sekali, inilah yang membuat kehidupan perekonomian kami semakin terpuruk.
Tahun kedua, saat aku naik kelas 3 SMP, saya jatuh sakit, asma yang memang ada sejak saya kecil kambuh kembali, keadaan ekonomi membuat saya hanya berobat ke mantri kesehatan setempat sesekali. Buruknya kondisi jalan menuju ibukota dan ditambah longsor disana sini, semakin menambah buruk keadaan ini.
Adik bungsu saya yang berumur 5 tahun akhirnya di antarkan pulang kejawa, dan dititipkan ke adik Bapak yg memang tidak memiliki keturunan, setahun kemudian setelah lulus SMP, sayapun disarankan Bapak untuk melanjutkan SMA diJawa, namun karena ketiadaan biaya Bapak tidak bisa mengantarkan saya, Bapak hanya punya uang 60ribu buat biaya transport 1 orang saja.
Karena keinginan bersekolahlah akhirnya saya menyanggupi pergi kejawa sendirian untuk menuntut sekolah dengan ikut saudara kami diJawa.
Dan syukurlah saya selamat sampai tujuan.
Saya diterima di SMA 2 Brebes.
Selama sekolah di situ, saya berkirim khabar dengan kedua orangtua melalui surat saja.
Dan masuknya perusahaan perkebunan HTI PT.Sumalindo kedaerah Sebulu tahun 1989, membawa dampak positif bagi kehidupan perekonomian masyarakat sekitar.
Ini merupakan khabar baik.
2 komentar:
kadang kesulitan dalam hidup membawa hikmah bagi kematangan diri yang mungkin saja dibutuhkan dimasa yang akan datang...
yang penting tetap berusaha dan berjuang disertai dengan doa. dan tetap berdoa, walaupun merasa doa yang dipanjatkan tidak dijawab.. karena sebenarnya.. seluruh doa itu dijawab... hanya saja karena keterbatasan ilmu... maka kita seringkali tidak mengetahuinya...
teruslah berjuang
wah petuah petuahnya bagaikan oase ditengah padang pasir bagi saya.
terimakasih
Posting Komentar